Kamis, Februari 05, 2015

Review Pesta Buku Bandung 2015



Hari ini saya akan memberikan review menarik buat “book nerds”. Yes, saya pernah bilang kalo saya suka sekali membaca. I am 100% a book nerd. Pada tanggal 31 Januari-5 Februari kemarin ada event keren buat para book lovers, yaitu Pesta Buku Bandung 2015. Acara ini diadakan di kota Bandung –masa sih?- tepatnya di Landmark Convention Hall. Gedung Landmark ini letaknya deket banget sama stasiun Bandung.

First of all, saya akan ngasih tahu cara ke sana naik angkutan umum dari Jatinangor. Dari Jatinangor, naik angkot warna hijau tua-merah jurusan Majalaya-Gede Bage, turun di tujuan paling akhir, Gede Bage. Habis itu lanjut naik angkot warna hijau muda jurusan Gede Bage-St.Hall turun pas di depan Gedung Landmark.

Pas sampai Gedung Landmark, agak bingung juga karena ternyata gedungnya tuh kecil dan nyatu sama gedung-gedung yang lain. Berbekal poster dan banner yang terpampang di sekitar area gedung, akhirnya saya yakin kalo saya ga nyasar.

Pertama kali masuk, terlihat banyak stand-stand buku yang berjajar rapi memenuhi area gedung. Saya memutuskan langsung ke lantai dua karena saya dapet info kalau di lantai dua banyak novel terjemahan bagus yang harganya Cuma 10-20 ribu aja. Ajegile!

Pas sampai lantai dua, mata saya langsung menyeleksi buku-buku yang menarik perhatian saya. Lumayan lama saya cari buku di sini, sekitar duapuluh menitan lah. Soalnya saya itu selektif banget kalo cari buku. Akhirnya, saya memutuskan membeli novel The Butcher karya John Lutz dan Pardon My French-nya S.A.S.S. dengan harga 30 ribu saja.

Lanjut ke lantai bawah, saya mulai cari-cari novel lagi dan seneng banget pas lihat ada novel Just Listen dari Sarah Dessen. Saya sudah baca versi bahasa Inggrisnya tapi cuma sampai chapter 2, hehe. Dan harganya itu loh, cuma 12 ribu rupiah saja. Di stand yang sama, saya membeli buku Ugly dari Constance Briscoe dan Falling Home by Karen White. Total yang harus saya bayar untuk ketiga buku itu cuma 52 ribu rupiah.

Lanjut, saya masuk ke area yang lebih dalam, sampai ke stand-nya Mizan. Saya hampir kalap. Banyak banget buku-buku bagus di sini. Ada serial Supernova, The Maze Runner, Dilan, dan novel-novel popular lainnya. Rasanya mau borong. Sayang, harganya ga turun-turun amat. Cuma diskon 30%. Sebenernya udah niat mau beli A Girl With A Dragon Tattoo, tapi bukunya tebal sekali. 

Saya kurang yakin bisa melahap seluruh isi buku itu karena jadwal kuliah yang padat.
Akhirnya saya terus keliling sampai nemu novel-novel unyu yang harganya 20 ribuan. Covernya lucu banget dan ceritanya juga ringan. Akhirnya di stand ini saya beli dua novel, The Days Without You dan Morning Gloria.

Total uang yang saya keluarkan untuk 7 buku yang saya beli adalah 122 ribu rupiah. Tapi, saya kurang puas soalnya stand-standnya kurang banyak dan sedikit sekali stand yang menjual buku berbahasa Inggris. Waktu itu di Jakarta juga sempet ada event book fair -di senayan kalo ga salah-, tapi saya ga dateng waktu itu. Agak nyesel juga sih soalnya itu event kayaknya gede dan rame banget. Semoga saja tahun ini ada lagi, jadi saya bisa kembali memburu buku!

Sekian review saya yang membosankan ini haha.

Trims buat book nerds yang udah baca review ini. Have a good day!
Ciao~

Selasa, Januari 27, 2015

Pulang, Sebuah Novel Sejarah Berbungkus Kisah Cinta



Saya suka sekali membaca buku. Bagi saya, buku adalah pelarian terbaik dari segala macam kepenatan jadwal kuliah. Saya suka semua jenis buku, mulai dari romance, science fiction, fan fiction, sampai novel-novel yang sedikit berbau filsafat. Hari ini saya akan memberikan rekomendasi my all time favorite book. Buku itu berjudul, Pulang karya Leila S. Chudori.

Awalnya, saya disuruh dosen untuk baca buku ini. Mulanya agak berat sih buat beli buku ini, harganya kurang pas sama kantong mahasiswa, hehe. Waktu itu saya beli di toko buku dengan harga 70.000 rupiah, lumayan kan? Tapi, setelah selesai membaca buku ini saya gak menyesal udah beli buku ini. Bukunya bagus. Saya suka sampulnya yang sederhana dan cukup merepresentasikan isi cerita buku tersebut. berbicara isinya, asli banget kalian yang suka sejarah harus baca buku ini.

Isi buku ini tidak melulu tentang sejarah. Buku ini juga memiliki kisah cinta yang tidak picisan. Latar belakang kisah tokoh-tokoh di dalamnya ada di berbagai negara, terutama Paris, Perancis. Kenapa Paris? Karena buku ini bercerita tentang ekspatriat yang lari ke luar negeri dan akhirnya tidak bisa pulang kembali ke tanah air. Di dalam buku ini juga diceritakan bagaimana para ekspatriat tersebut berjuang untuk bertahan hidup di negeri orang. Saya juga suka dengan gaya cerita pengarangnya dengan menggunakan surat sebagai penggambaran kisah tokoh-tokoh di dalamnya.

Jujur, saya jarang membaca novel berbahasa Indonesia. Bukan mau sok-sok-an atau apa, tapi saya lebih nyaman membaca novel berbahasa Inggris. Tapi, pulang bisa mendobrak kebiasaan saya itu. Pulang adalah novel yang lumayan berat untuk saya, mungkin karena unsur sejarah yang melekat dalam novel tersebut. Tapi, banyak sekali hal yang dapat diambil dari novel 460 halaman ini.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Perancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

I rate this book: 4.5/5