Buku adalah jendela dunia.
Terdengar klise, tapi pernyataan itu ada benarnya. Buku adalah gerbang menuju
dunia yang tak terbatas. Buku adalah media yang dapat memanjakan dunia
imajinasi, menjadikannya lebih besar dan luas. Buku adalah sarana bagi penulis
untuk menuangkan segala ide dan kreativitasnya dalam runtutan kata-kata. Begitu
banyak makna dan filosofi buku. Apa makna buku untukmu?
Buku bagi saya adalah tempat
pelarian terbaik untuk menghindari kepenatan rutinitas. Setiap hari saya harus
berkutat dengan jadwal kuliah yang padat, tugas, presentasi, kegiatan-kegiatan
luar kampus. Setidaknya, dengan membaca buku pikiran saya akan lebih tenang dan
terbuka.
Saya menulis artikel ini didorong
oleh pengaruh yang saya dapatkan dari membaca buku. Saya ingin membagi
pengalaman membaca ini dengan kalian, sesama pecinta buku. Saya ingin tahu
bagaimana perasaan kalian saat membaca buku, bagaimana sebuah buku bisa
memberikan pengaruh yang besar bagi pembacanya.
Apa buku favorit kalian?
Apa buku yang memberikan memori
tersendiri saat kalian membacanya?
Siapa pengarang favoritmu?
Adakah kutipan dari buku yang kamu
baca dan sampai sekarang masih terngiang di benakmu?
Pernahkah kalian, sehabis membaca
sebuah buku, menyelesaikan semua chapter dalam buku itu, lalu bertanya,
“Bagaimana kelanjutan kehidupan tokoh ini?”. Lalu kalian tersadar, itu tokoh
fiksi, tidak nyata. Kalian berpikir bagaimana bisa sebuah buku menghantui kamu
semua dengan pertanyaan-pertanyaaan yang timbul dalam otakmu?
Membaca buku, terutama novel, membuat
kita memahami kehidupan orang lain, menyaksikan bagaimana seseorang
menyelesaikan masalahnya, mengetahui bahwa begitu banyak manusia di dunia yang
memiliki karakter dan sifat yang berbeda, menyaksikan realita-realita yang ada
dan terjadi di seluruh belahan bumi, sampai menyelami keindahan negeri karangan
si penulis yang berbeda dari kenyataan yang ada.
Buku-buku yang paling banyak saya
baca adalah novel. Baik novel Indonesia atau novel-novel luar negeri. Biasanya,
saya membaca novel yang bercerita seputar kehidupan remaja dan problematikanya.
Namun, kadang saya juga membaca novel-novel berbau sejarah dan biografi.
Novel Indonesia yang saya suka
berjudul Pulang, karya Leila S. Chudori. Saya sudah menulis review-nya di sini.
Kalau ditanya siapa pengarang favorit saya, mungkin saya akan menjawab Dewi Dee
Lestari. Mengapa? Karena sampai saat ini saya masih takjub dengan kejeniusan
wanita ini.
Novel asing yang saya baca
kebanyakan novel-novel populer yang sedang hits di tumblr. Seperti The Fault In
Our Stars-nya John Green, Eleanor and Park-nya Raibow Rowell, dan If I Stay-nya
Gayle Forman.
Oh iya, saya membaca novel-novel
asing yang belum diterjemahkan, alias novel berbahasa Inggris. Bukan mau
sok-sokan, hanya saja saya merasa ada yang hilang jika sebuah novel
diterjemahkan. Selain itu, dengan membaca buku berbahasa Inggris
sedikit-sedikit melatih saya untuk memperdalam bahasa Inggris yang sudah jarang
saya gunakan. Tetapi, kalian jangan menganggap ketidaksukaan saya terhadap
novel terjemahan ini sebagai pemikiran bahwa novel-novel terjemahan di
Indonesia tidak bagus. No, i don’t think
they are bad. Justru saya sangat mengapresiasi semua penerjemah buku-buku
asing di Indonesia, karena saya tahu menerjemahkan sebuah buku itu bukan
pekerjaan yang mudah. Hanya saja, saya bukan tipe yang suka membaca buku
terjemahan.
Terima kasih sudah membaca artikel
saya ini. Saya harap, tulisan ini bisa sedikit memacu kalian untuk mulai
membaca. Saya akan mencoba untuk membuat review buku-buku yang sudah saya baca.
Jadikanlah membaca sebagai kebutuhan, bukan hobi atau kegiatan di waktu
senggang.
This is my favorite line from my
favorite book, The Glass Castle by Jeanette Walls.
“You should never hate anyone, even
your worst enemies. Everyone has something good about them. You have to find
the redeeming quality and love the person for that.”
Ciao!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar